Sabarlah beberapa jenak lagi

Labels: kontemplasi
sebuah pertanyaan hidup
Bagi sebagian kita, kehidupan kadang terasa lama berputar. Meskipun sejatinya, dibandingkan kehidupan akhirat, umurnya sangatlah singkat. Beberapa kita kadang merasa jenuh, capek dan bosan. Kemudian merasa hidup ibarat daun yang lepas dari tangkainya. Luruh, dan terbang kemana arah angin membawanya. Tak ada arah yang jelas. Harapan menjadi sirna, karena tujuan hidup menjadi buram. Tak ada lagi nilai yang diperjaungkan di sana, dan semuanya akan berujung pada keputusasaan.
Jika kita sampai pada titik ini, maka ada perbaikan yang harus dilakoni. Sebab hidjup terlalu berharga untuk hanya dibiarkan berjalan seperti air yang mengalir. Minimal, pengharapan akhir harus segera disegarkan kembali. Bahwa muara segala sesuatu adalah pada-Nya, yang menggenggam semua cita dan harapan segala makhluk. Sebab, tidak pernah ada harapan yang benar-benar hilang. Pada-Nya, kita akan selalu mendapat pengharapan sejati.
Maka seiring bertambahnya usia hidup kita di dunia fana ini, sisihkanlah waktu sejenak berdiam diri untuk intropeksi. Memuhasabah semua langkah hidup yang telah diayunkan. Namun bukan sekedar evaluasi kemudian berhenti di sana. Sebab persoalan utamanya adalah menjawab sebuah pertanyaan dalam simpang sejarah ‘ADAKAH YANG HARUS SAYA REVISI DALAM PERJALANAN HIDUP SEJAUH LANGKAH YANG TELAH MENGANTARKAN SAYA SAMPAI DI JEJAK INI?'
*Inspired from tulisannya deen
Labels: kontemplasi
jangan kau bunuh hatimu
Siapakah yang bisa berdamai dengan perasaan? Kita hanyalah makhluk lemah yang dititipi amanah memakmurkan bumi di bawah aturan-Nya. Namun di balik kelemahan itu, ada satu anasir hidup, yang menjadikan kita manusia menjadi sebaik-baik makhluk. Anasir itu bernama hati, yang membuat kita bisa mengekspresikan beragam perasaan.
Dengan hati, kita bisa menangis ketika bersedih. Tertawa kala gembira, marah saat terganggu, dan berbagai bentukan ungkapan lainnya. Semuanya dari hati, yang menggerakkan perasaan untuk mengakumulasikan semua.
Hati, yang membuat seorang ibu rela tidak tidur untuk menjaga buah hatinya. Tanpa peduli kelelahan menggelayut berat di pelupuk mata. Ia pula yang memberikan semangat kepada tiap ayah untuk memeras keringat memenuhi semua kebutuhan keluarganya tanpa menghiraukan beban letih di kedua pundaknya. Begitu dalam makna cinta dan keajaiban yang terkandung dalam hati.
Dengan hati, warna indah dunia terlukis dalam makna cinta, kasih sayang dan perhatian. Dengan hati pula, kebencian, dendam dan angkara murka menghitamkan sejarah jernih kemanusiaan. Meskipun untuk yang terakhir ini, merupakan indikator sakitnya atau bahkan kematian sebuah hati. Begitu misterius cara kerjanya.
Maka jangan pernah membunuh hatimu. Sebab, keberadaannyalah yang membuat nilai kemanusiaan kita berada di puncak keagungan. Sucikan, bersihkan dari semua noda yang dapat mengotori kemurnian niat dan kebeningan pancarannya.
‘Jika engkau tidak lagi memiliki perasaan untuk semua hal yang terjadi di depan matamu, lihatlah hatimu. Dan jika ia telah terlanjur membatu, mintalah pada Allah agar melembutkannya’.
Labels: kontemplasi
[melihat dari sisi lain] tentang hujan dan terik

Kita sering mengeluh, saat hujan turun ke bumi. Entah dengan alasan dingin atau jalanan menjadi becek dan tergenang air sehingga menghambat beragam aktivitas luaran kita. Namun saat matahari bersinar terik, keluhan itu tak juga berhenti. Panas, gerah dan berkeringat. Itu sebagian alasan yang terlontar dari lisan .
Sejenak, mari membuka satu jendela lain dari kisi hati kita. Jendela yang terkadang sudah terlalu lama tertutup sehingga menyisakan kegelapan dan udara pengap dalam ruang imajinasinya. Jendela yang kita menyebutnya sebagai ‘renungan’.
Hujan, dengan titik air yang diturunkannya selalu ‘menghidupkan’ bumi setelah ‘matinya’. Tanah menjadi subur. Tumbuhan menjadi lebih segar, sehingga menjadi lebih produktif. Pernahkan kita membayangkan senyum para petani yang berteduh di dangau kecil mereka tiap kali hujan mengaliri sawah ladangnya? Ya, dari mulut mereka tak pernah lekang doa agar hujan bisa turun menghidupkan tanaman.
Panas matahari dengan cahaya yang dipancarkannya pun demikian. Dengan kandungan zat yang dimilikinya, membuat setiap tumbuhan mampu ‘memasak’ makanan untuk pertumbuhannya. Bahkan, setiap makhluk hidup akan mendapatkan supply energi baru tiap kali bersentuhan dengan kehangatan cahaya matahari, yang tak bisa digantikan dengan sumber cahaya lain.
bahkan, perpaduan keduanya selalu menghasilkan sebuah fenomena alam yang terlukis indah di kanvas langit; PELANGI dengan segala keajaiban warna dan lengkungannya.
Lalu, masihkah kita menggerutu dengan hujan dan panas yang dipergilirkan di alam ini?
Labels: kontemplasi
[sepenggal fragmen hidup]

Fragmen 1 :
Puzzle itu belum utuh. Namun gambarnya sudah mulai terbentuk. Tuhan … aku letih. Bisakah aku berhenti sejenak untuk beristirahat?
Fragmen 2 :
Berbalik ke belakang, seuntai ghoflah/kesalahan dan kesombongan masih juga mengikuti. Apakah ini hukuman-Mu? Tuhan … sabarkan aku dalam sakitku. Jadikan ia sebagai penebus dan penggugur dosa-dosaku seperti yang pernah disabdakan oleh manusia Agung, RasuluLlah saw.
Fragmen 3 :
Malam masih sama. Tetap menyiramkan embun di awalnya. Dingin, sampai subuh menjelang. Kontras dengan kehangatan geliat semu dan fatamorgana kenikmatan manusia yang jauh dari tuntunan-Mu. sunnatuLlah kebaikan dan kejahatan, ternyata tak sesederhana itu.
Fragmen 4 :
Megah-kumuh, tinggi-rendah, bersih-kotor, lapang-sempit …
Ah … tiap perempatan selalu saja sama. Menawarkan segalanya sebagai pilihan. Yang manakah? Mata batin, masih saja terpasung.
“HIDUP, KADANG_KADANG MASIH MENYISAKAN MISTERI DALAM DIRINYA.”
Labels: kontemplasi