Tuesday, December 02, 2008

Representasi 'kesepian' (bagian 2)

Siang ini, tiba-tiba saja aku ingin menangis. Bukan, bukan karena hujan di luar sana yang membuatku harus berteduh hingga akan telat sampai di tempat tujuan. Juga bukan karena lapar sepagian belum ada yang masuk ke dalam organ pencernaanku. Bukan. Tapi ada buncahan dari dalam yang memaksa mata ini kembali berembun. Tanpa bisa kucegah.


Pertama, entah mengapa pasca menulis 'bila hati rindu menikah [part 9] : Berani menjemput Bidadari' di blogku, bayangan 'kesucian' NabiyuLlah Yusuf a.s yang mampu membentengi diri dari godaan Imraatul Aziis, dan Abu Bakar Al-Misky, pemakai 'baju besi' dari kotoran manusia demi menghindari zina dengan wanita kaya dan cantik, semakin kuat dalam benakku.


Malu. Iya. Sebab diri ini tidak akan bisa menandingi memuliaan mereka. Masih saja harus berjibaku dengan tarikan nafsu dunia yang melenakan. Menang dan kalah silih berganti. Seperti waktu menemani rekan-rekan wartawan meliput diksusi antara buruh dan sekjen salah satu parpol di Qu*** Cafe sampai pukul 3 dinihari kala itu. Sampai sentakan kalimat seorang akhwat yang juga bagian dari tim ini menyadarkanku yang sempat menolehkan kepala ke arah 'kotak ajaib' yang menampilkan para model di atas catwalk.


Kedua, saat mereply email seorang rekan di milis Musholla Adz-Dzarrah Elektro FT-UH. Ingatan pada Palestina menyeruak. Selalu saja menyajikan cinta, empati, sedih, harapan, semangat, geram bahkan marah. Ah, sudah berapa lama aku tak menulis tentang negeri ini. Negeri suci setelah Makkah dan Madinah. bagaimana kabar saudara-saudaraku yang ada di sana... yang tetap tersenyum dengan kilat mata penuh kehidupan dan genggaman tekad pada batu-batu jalanan? Sungguh, aku mencintai kalian. Meski yang kulakukan baru sebatas menyebut dalam do'a dan sedikit coretan dalam catatan di blogku.


Seperti Faiz Abdurrahman, yang pernah bertanya pada bundanya, Helvy Tiana Rosa. 'Apakah cinta memang selalu menyediakan air mata?

Labels:

Thursday, February 28, 2008

bila hati rindu menikah [part 8]

Diri, sudah sejauh manakah perjalanan hidup ini telah terlangkah? Entah, kusadari atau tidak, belakangan ternyata aku tidak lagi menghitungnya. Dengan tarikan nafas per sekian detiknya ataukah dengan jumlah amalan yang tertera. Mengukur hidup dengan skala maksiat dan kebajikan, jujur akan mendatangkan banyak ajaran kearifan bagi hati yang masih menyisakan setitik kelembutan dalam kerak kekerasannya.

Dalam hitungan 2 purnama lebih, bentangan kesia-siaan kembali terhampar. Mengulang kesalahan yang telah lalu? Ah, bukankah kau sendiri telah mengatakan tidak akan ambil bagian bahkan pada barisan paling belakang dari antrian keledai yang untuk jatuh dua kali pada jebakan yang sama tidak lagi mereka ridho?

Entah, namun membenci diri sendiri tetaplah sesuatu yang tidak akan membantu. Jujur pada nurani, lebih menyejukkan. Ternyata kesombongan diri yang melenakan masih saja bertahta di sana. Kau kemanakan ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan ALLAH?’ sekedar lintasan yang dogmatis tanpa pernah mewujud menjadi sebuah keyakinan ideologi? Lalu kesalahan kau timpakan kepada hatimu yang masih juga gampang terlena? Sepakat, bahwa IA dengan iradah-Nya menguasai hati manusia. Tapi bukankah tak pernah lekang dalam doamu di akhir sholat agar tidak membolak-balikkan hatimu dalam hal agama dan dakwah?

Hey...bukankah inti hidup ada di sini? Untuk memenangkan tarikan kebaikan itu di atas ajakan kemaksiatan? PERJUANGAN. Arrggg....mengapa kesadaran itu selalu datang belakangan sementara kala kelapangan menyapa, hampir tak sekalipun matamu menangkap makna Ilahiyah dalam setiap gerakan. Lalu.... ah, aku merindukan sujud panjang menentramkan, dalam doa setelah ikhtiar bahwa di atas segalanya, ada ENGKAU Yang Maha Mengatur.

Berhenti? Iya, harus. Sebab ALLAH SWT masih mencintaimu. IA masih membuatmu merasakan kesedihan, agar bisa sedikit belajar memaknai arti kegembiraan. Seperti hujan, yang sesekali harus turun di antara kehangatan cahaya matahari

---

Katamu, masih ada banyak pelangi di luar sana. Ya saya tahu. Bahkan masih sering melihat lengkungan sempurnanya di bentangan langit sana setelah hujan. Namun sekarang aku sudah berhenti mengejar pelangi itu. Sebab, sampai kapanpun tak akan pernah bisa kurengkuh.

Menyesal? Tidak. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku harus bersyukur kareka ALLAH SWT masih mencintaiku? Terbukti, perjalananku mencari pelangi membekaskan banyak pelajaran keindahan. Tentang cinta, kasih sayang, pengorbanan, perjuangan dan beragam hal indah lainnya. Terima kasih telah menjadi salah satu guru dalam kehidupanku. Dengan perantaraan dirimu, ALLAH SWT kembali menunjukkan padaku bahwa hidup dengan segala suka dukanya, tengah mengajarkan kepada kita semua rangkaian hijaiyyah segala sesuatu. Alif...Ba...Ta...

Labels:

Monday, December 03, 2007

jangan lupakan AKAD ini...

Dengan segenap kemantapan jiwa pada raga
Yang kuucapkan dari kedalaman fikirku akan janji-Nya
Dengan mahar seperangkat alat kemenangan dan seribu dinar syahid fi sabilillah
Yang telah kupersiapkan di penjuru kamp Jenin
yang telah menunggumu di Ramallah yang berdebu
Yang telah terbungkus rapi di Al-Aqsho pada puing
Aku tak pernah ragu akan kesiapanmu
Sebab lantang suara qalbu telah kudengar
dari jejak-jejak doamu yang menggema di sepanjang malam tak berkesudahan
Aku tak pernah ragu dengan pilihanku
Sebab telah jelas Allah yang selalu melindungiku
Memberiku kemantapan pada istikharah Jalur Gaza dan sudut kota
Bahwa kau adalah calon mempelaiku
Dan akan serta hidupkan raga
Pada hentakan mortir di sudut kota
Pada lontar mesiu tank baja
Pada sumber api panas nyala
Kupinang engkau dan saksikanlah;
Bumi segera menyeruak memberi jalan

Labels:

Tuesday, November 13, 2007

[kontemplasi]

Menatap gejolak yang meluap yang menghanguskan dan meluluhlantakkan dunia islam;
Ada yang harus dilakukan
Menyimak kedzaliman dan penindasan yang menimpa dan mencengkram dunia islam;
Ada yang harus dikerjakan
Bukan semata merenung, kemudian meneteskan air mata
Bukan semata menjerit atau bertakbir
Ada yang dilakukan adalah menyiapkan diri menjadi anak panah-anak panah yang siap dilepaskan
Atau peluru-peluru yang siap ditembakkan.
Atau tombak-tombak yang siap dilontarkan.
Atau pedang-pedang yang siap diayunkan.
Menyadari keangkuhan dan kesombongan yang mengangkangi dan menindas dunia islam;
Ada yang harus disiapkan
Keikhlasan diri, kebulatan tekad, kekuatan jasad dan keteguhan materi
Menyikapi kehancuran yang melanda dunia islam;
Di tengah kelesuan, kelemahan dan tidur panjang umat islam;
Langkah yang dilakukan harus penuh kesungguhan
Bukan semata bicara panjang lebar tanpa kerja yang nyata
Atau semata mengungkapkan kebobrokan namun dengan penuh ragu dan kecenderungan
Adalah memantapkan diri bahwa selembar jadwal bukan sekedar rencana kosong
Bahwa tiap goresan pena adalah kesungguhan
Dengan keprihatinan bahwa kesabaran adalah cambuk untuk menegakkan keadilan
Merenungi langkah yang harus dilakukan untuk masa depan dunia islam;
Ada yang harus ditegaskan
Kemantapan diri, kekuatan azzam, kemurnian asas, dan kejelasan tujuan

Labels:

Sunday, October 21, 2007

Laki-laki dan air mata

Salah satu persangkaan yang banyak digunakan orang dan menjelma menjadi sebuah pandangan umum adalah tentang gambaran seorang laki-laki. Sosoknya dicitrakan sebagai makhluk yang perkasa, kuat, penuh ambisi untuk menaklukkan dunia. Hingga tak disisakan sedikitpun ruang untuk kehalusan rasa dan air mata. Bila benar demikian, bagaimana mungkin ia akan mampu mengemban amanah Allah swt yang dibebankan di kedua tangan dan pundaknya? Padahal, keperkasaan yang terkadang menjelma menjadi kegarangan, di suatu waktu atau peristiwa akan mengembun. Sebab, di kedalaman nuraninya tetap saja ada kelembutan yang bertahta.

Cengeng, banci dan gelaran lainnya akan segera tersemat di belakang mereka ketika diketahui bahwa mereka sering bahkan selalu menangis. Padahal, bukankah mereka juga manusia yang sama dengan perempuan? Sama-sama memiliki hati dan perasaan untuk mencerna semua masalah yang menghadang di depannya? Lalu kesalahannya dimana?

Jika tangisan atau air mata itu menderas untuk sebuah kekecewaan, kesia-siaan, patah semangat tanpa keinginan untuk bangkit lagi, atau bukan di jalan Allah swt, julukan seperti di atas mungkin (sekali lagi mungkin) bisa dialamatkan kepada laki-laki. Namun bagaimana kita memaknai derasan air mata yang lahir dari kegundahan hati laki-laki yang melihat kondisi ummat ini masih saja terpuruk di lembah terdalam kejahiliyahan? Merasa belum berbuat maksimal untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan sana? Atau mata yang kaca kala mengingat belum sempurna kecintaannya kepada Sang Khaliq dan RasulNya yang mulia?

Bagaimana pula dengan isakan mereka di penghujung malam, kala mengingat dan menghitung-hitung dosanya di hari lalu, sementara jaminan syurga tak ada sedikitpun dalam genggaman? Mengenang keterpurukan nilai-nilai suci ISLAM yang tenggelam oleh ummatnya sendiri lantaran masing-masing bertahan dengan ego dan pemahaman jamaah tempatnya belajar mengkaji semuanya sementara usaha yang dilakukannya untuk menyatukan mereka hampir tak mendapat tempat sama sekali?

Bagaimana pula dengan rintihan tertahan para laki-laki yang belum juga mampu menyadarkan anak perempuan atau istrinya agar berhijab dengan sempurna? Atau kala mengetahui bahwa anaknya menjalin hubungan dengan seseorang yang bukan mahromnya dalam sebuah ikatan yang bukan pernikahan?

Ah, mungkin kita semua harus belajar membaca makna. Mencerna segala sesuatu dari kandungan isi tanpa tertipu penampilan luar. Untuk apa dan siapa air mata itu harus mengalir. Seperti tangisan Muhammad saw Sang Teladan. Padahal sejarah mencatat beliau sebagai seorang panglima perang yang paling cerdas di segala medan. Yang paling tegar di hadapan semua cobaan dan fitnah. Yang paling tegas di hadapan kaum kuffar. Namun, tetap saja matanya mengalirkan air kala bersujud di hadapan Rabbnya, atau kala mengingat semua ummatnya yang belum juga sempurna mengabdi pada Rabb Semesta Alam.

nb : inspired from akhwat bandung yang belakangan jadi teman diskusi lewat e-mail. afwan, belum izin. Mudah-mudahan ga keberatan.

Labels:

Wednesday, October 10, 2007

Jelang fitri di akhir Ramadhan

Kesedihan yang wajar, saat sesuatu yang dicintai bergerak perlahan meninggalkan kita. Menjauh, dalam kebersamaan yang sangat singkat. Entah dengan kebersamaan seperti apa yang tertoreh dalam perjalanan selama bersama, jelasnya akan meninggalkan kenangan sendiri di suatu sudut jiwa. Apa yang disisakannya sebagai catatan sejarah, akan dibawa menghadap-Nya kelak sebagai bagian dari pertanggungjawaban desah nafas dalam rangkaian hari kehidupan.


Kerinduan yang akan menyeruak. Dalam banyak kenangan indah. Di keheningan malam dalam puncak tahajud, siang yang menyediakan beragam pilihan amal nyata kebaikan, bahkan dalam kesederhanaan berbuka dengan 2 kegembiraan tertinggi seperti yang telah dijanjikan Sang Maha Pengatur pergerakan seluruh alam raya.


Ramadhan memang telah di ambang gerbang akhir dalam perjalanannya membersamai kita. Sekejap, dalam hitungan jam pergerakan bulan di angkasa sana dia akan menuntaskan kunjungan rutinnya sekali dalam 12 purnama yang sempurna. Fitri menjelang, dalam syawal yang menjanjikan kemenangan atas perang melawan hawa nafsu.


TaqaBbalaLlahu miNna wa Minkum, Shiyaamana wa shiyaamukum. Semoga Allah SWT menerima semua ibadah puasa kita dan berkenan memasukkan kita dalam golongan orang yang bertakwa di hari kemenangan yang menggembirakan. Amiin Ya Rabbal 'Alamin

Labels:

Wednesday, September 12, 2007

Karena IA begitu INDAH ...

Ramadhan

Ada kesejukan dalam udara yang dialirkannya. Yang mengisi kekosongan rongga dengan kejernihan iman. Ada kesenyapan yang menentramkan, dalam sujud panjang di akhir malam sebagai nafilah, dengan kedudukan tinggi sebagai balasan. Ada kegembiraan tak terkira, saat dahaga tersegarkan waktu adzan magrib berkumandang. Atau kebersamaan yang hangat, kala duduk bersama dengan keluarga bersantap sahur dengan iringan kalam suci.

Terik siang menjadi sejuk, dengan tangan di atas. Berbagi dengan sang fakir dan miskin. Kata yang biasanya banyak tersia berganti pahala lewat alunan dzikir dan tilawah yang bercahaya. Senyum peneduh hati, menjadi hiasan hari dalam pergaulan. Nafsu teredam, hati tunduk. Dengan bayangan syurga di ambang tertinggi pengharapan.

Di sinilah, salah satu madrasah perjuangan kehidupan. Menempa kecemerlangan hati. Memupuk pengorbanan suci, bina iman dan mujahadah. Dengan bekal takwa sebagai pegangan.

Sunnah melesat wajib, menumbuhkan 10, 100, 700, 1000, ... dan bertambah hingga hanya Sang Khalik saja yang tahu balasannya. Semua kebaikan, berkumpul dengan sempurna di dalamnya, tanpa cela sedikitpun. Bahkan musuh abadi anak cucu Adam harus menahan geram karena terbelenggu. Robbi, andai saja setiap bulan adalah RAMADHAN...

*buat semua yang pernah interaksi sama ilo’, maaf kalo selama ini banyak salah dan dosa. Semoga kita kembali fitri di akhirnya. Amin...

Labels:

Thursday, August 16, 2007

lagi, tentang ibu

Saya hanya bisa diam dengan mata gerimis. Menyaksikan tubuhnya berbaring di kamar ICU pasca operasi. Rabbi, ketentuan-Mu memang terkadang sulit untuk ditebak. Tubuh yang biasanya selalu saya saksikan (di rumah di sinjai sana) tiap pagi setelah sholat subuh dengan lincah menyiram bunga dan menyiangi rumput yang tumbuh di pekarangan depan, atau sore hari selalu tersenyum di teras menyaksikan cucunya berlari-lari dan bermain air di bawah pohon mangga, kini tenang dengan mata terpejam. Hanya gerakan turun naik dari dadanya dengan nafas teraturnya yang kutemui magrib itu, kala izin membesuk masih tersisa 15 menit.

Terbayang ketegarannya di hari-hari lalu. Berjuang dan membesarkan kami, anak-anaknya. Hampir tak pernah kudengar keluhan dari bibirnya, yang ada hanya doa dan pengharapan pada Sang Maha Kudus di tiap rakaat sujud panjangnya. Doa akan keberhasilan dunia akhirat, dan harapan agar bermanfaat hidup dan kehidupan kami di semesta jagad ini. Senyumnya selalu mampu menetralisir kelelahan yang menghinggapi jasad, tiap kali menyambut kami pulang dari sekolah. Atau ketika kami mengetuk pintu rumah dengan ucapan salam kala kami pulang kampung ketika putaran waktu membawa kami menapaki jenjang universitas.

Selalu dan selalu. Makanan hasil masakan tangannya dan kue-kue bugis yang hampir tak pernah kosong mengisi lemari es di rumah kami tak pernah mampu tergantikan dengan fast food dan aneka kue yang namanya sendiri kadang tidak mampu kulafadzkan dengan baik yang sesekali kunikmati di keramaian kota makassar ini. Pun, sampai terakhir kalinya aku pulang kampung, masih saja ia dengan sabar menyelimuti tubuhku dengan selimut yang selalu tertidur di depan TV hingga larut malam. Tak pernah alfa, teguran lembutnya kala adzan sudah mengalun sementara aku masih meringkuk atau bermalas-malasan dengan laptopku.

Sekitar pukul 16, ketika kesadaran mulai menghampirinya karena pengaruh obat biusnya mulai berkurang sejak pukul 10 pagi tadi, ia berkata lemah setelah melirik jam dinding yang ada di sampingnya. ‘Mauka (saya mau) sholat dhuhur sama ashar dulu. Belumpa (saya belum) sholat dari tadi’. ‘Kapan operasinya kah? Kenapa belum mulai-mulai?’. Masih dengan mata kaca, kami tersenyum. ‘Mi...operasinya sudah selesai. Sekarang lagi di ruang ICU. Istirahat meki saja.

Ah, engkau makin membuatku kagum. Bahkan ketika kesadaranmu belum 100% pulih, hal pertama yang kau ingat adalah sholat. Seolah mengajari ulang diriku, yang kadang-kadang masih saja susah beranjak dari depan laptop kecuali panggilan iqomah sudah mengalun dari speaker masjid. Bahkan, 10 hari menjagamu di Rumah Sakit, tetap saja pelajaran-pelajaran kehidupan engkau perlihatkan kepadaku. Tentang kedisiplinan, semangat, baik sangka, kesabaran, sosialisasi dan ...dan...dan...lainnya.

Sungguh, jenjang pendidikanku memang lebih tinggi darimu yang tak satupun titel mengiringi namamu. Tapi, pelajaran yang kau tanamkan tak pernah kudapatkan di setiap jenjang sekolah dan universitas yang telah mencatatkan namaku sebagai bagian dari alumni mereka.

Terima kasih, ummi.

Labels:

Thursday, June 28, 2007

Tentang Seseorang 5 [brigade 013]

Ia selalu memanggilku dengan sebutan 'komandan'. Mungkin sebagai 'balasan' kenyataan bahwa aku juga selalu memanggilnya 'panglima'. Dia yang memakai nick name 'brigade 013' dalam setiap tulisan-tulisannya yang kebanyakan bertema tentang totalitas perjuangan, keharusan berbangga dengan izzah keislaman di hadapan ideologi lain yang makin meracuni pikiran sebagian manusia, serta tentang kedisiplinan.

Perawakannya bagus. Dengan tinggi yang proporsional. Sesuai dengan jurusannya yang makin mendukung itu semua di kampus merah-hitam (Teknik UNHAS); Teknik Geologi. Ia memang paling hoby bertualang naik gunung. Proses pembentukan fisik menjadi kuat menjadi salah satu prioritasnya. ia sering menggambarkan, bagaimana mungkin kita akan berjihad melawan kaum kuffar, sementara fisik kita lemah dan sakit-sakitan. Pernah, ia menyinggung sebagian ikhwah yang baru sekedar kena hujan atau udara malam sudah meringkuk kesakitan. Namun jangan salah, air mata akan menderas dari pelupuk matanya kala dia sudah berdiri di hadapan Rabb Al Alamin kala pertiga malam menjelang pagi.

Lepas dari kampus 2006 kemarin, ia langsung kembali ke tanah kelahirannya di bumi Borneo sana. Kontak terakhirku dengannya lewat e-mail yang mengabarkan dirinya sekarang sudah masuk menjelajah hutan-hutan liar yang alami yang ada di sana. Ingin tetap menyalurkan jiwa petualang, katanya. Ketika kutanya masalah pilihannya.

Malam tadi, sms-nya menderingkan HP-ku. Kala kantuk masih memberatkan pelupuk mataku yang masih lelah setelah melakukan perjalanan makassar-masamba-makassar. 'Ana ingin menangis, ingat perjuangan masa lalu dengan ikhwah...sedih rasanya berpisah. Ana rindu antum...' Aku tesentak. Kenangan bergerak bersamanya semasa di kampus kemarin berkelebatan di kepalaku. Ketika sama-sama digebuki polisi kala demonstrasi masa Gusdur, berhadapan dengan 'mahasiswa sangar' ketika berjuang bersama di Senat Mahasiswa Teknik, rapat-rapat di setiap malam menyusun agenda aksi perubahan, dan beragam yang lainnya.

'Perjuangan semasa di kampus, ane anggap sebagai -istirahat-. Ketika kita terjun ke masyarakat, di sanalah the real battle is begin. lagian, ketika masanya tiba, pasti kita semua akan pisah kan? Ane juga sedang merintis di sinjai nih, dah beberapa kalo turun medan. Yang jelasnya dakwah tetap jalan' kubalas sms-nya.

'JazakaLlah, tangis ini karena rindu berjibaku dalam dakwah dengan antum. Insya Allah dakwah tetap berjalan. Jadi khatib di pedalaman.Allahummaghfirlana...'

Sungguh, desir kekaguman langsung melanda berbarengan dengan peerasaan rindu yang menguasai hatiku. Aku juga nenangis. 'SubhanaLlah, medan antum sudah benar-benar menuntut makna pengorbanan dan kesabaran yang sejati. Bukan lagi sekedar retorika belaka. Insya Allah kita bertemu di rabithoh pengikat hati di setiap subuh dan petang. Ane juga merindukan antum' kembali kujawab sms-nya.

'Insya Allah akhi...semoga kita dipertemukan di sisi-Nya.'

Kelelahanku sirna. Membayangkan beratnya perjuangan yang dia lakukan di seberang sana. Kunyalakan laptopku dan langsung menuangkannya dalam tulisan ini. Masih kuingat kala ia membacakan LPJ ketika mengakhiri jabatannya di salah satu wajihah kampus suatu waktu, kala ia mengucapkan terima kasih padaku karena telah menjadi salah satu inspirasi bagi gerak langkahnya, dengan menyebut inisial yang juga sering kugunakan di setiap tulisanku, 'green AK-47'.

Masih kuingat juga, saat-saat akhir sebelum dirinya memutuskan kembali berdakwah di tanah kelahirannya. Tentang keinginannya untuk segera menyempurnakan separuh dien-nya yang masih tersisa, yang alhamduliLlah berhasil diwujudkannya belum lama ini. Juga, tentang tambahan 'gelar' yang disematkannya padaku setiap kali menegur dan berbicara padaku. Ia memanggilku 'komandan samurai'.

Akhi, gelar itu lebih pantas untukmu!

Labels:

Wednesday, March 28, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang universitas kehidupan*

Fragmen 12

Belajarlah membaca dengan hati, bukan dengan pikiran’ kalimat pembuka yang kau ucapkan pagi itu, saat mengajakku ke pinggiran kota. Di deretan rumah-rumah kardus yang saling berdempetan tanpa bentuk. Kumuh, sumpek, hampir tak menyisakan sejengkalpun lorong udara untuk sekedar bernafas dengan lega. Selokan berair hitam yang penuh sampah, mengalir. Menahan nafas sambil berjalan, tetap saja aroma busuk yang menguar memenuhi rongga paru-paru. Aku mual.

Tidak terbiasa ya?’ tanyamu. Aku mengangguk. Tak kuasa membuka mulut. Sambil menengadah ke langit, kau berucap pelan ‘jalan lain masih terbuka untukmu’. ‘Tidak…tidak…aku harus bertahan’. Tekad ini harus menyatu dalam aliran darahku.


Senja mulai memerah di ujung barat. Dalam senyum, kau kembali bertanya ‘Masihkah hatimu membatu melihat sebagian realitas negerimu yang seperti ini?'


Fragmen 13

Udara konflik masih membumbung tinggi. Mengangkasa, seiring dengan asap hitam tebal yang meninggi. Meninggalkan bara jejak api dengan segala keangkuhannya. Anyir darah menggantikan kesegaran udara pagi. Tak ada tawa riang dan kegembiraan anak-anak yang berlari berkejaran di lapangan dan tepian sungai. Toleransi dan kasih sayang tercetak tak berdaya, dalam lembaran putih kertas buku dan pemanis bibir kala pertemuan.

Kau mengajakku ke sana. Di antara desingan peluru, lemparan tombak dan lesatan anak panah. Refleks, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dan kau melangkah dengan tersenyum. Dari kejauhan, masih kulihat sosokmu memapah mereka yang terluka. Dengan penuh kasih, membelai kepala anak-anak yang menangis ketakutan. Membalut luka dan membersihkan darah yang mengotori tubuh para korban yang tak mengerti mengapa harus mengalami hidup seperti itu.

Sekembalimu dari sana, kau berucap ‘Sejarah, hanya mengenang 2 karakter manusia. PEJUANG atau PECUNDANG


Fragmen 14

Masih ingat jalan lurus yang ujungnya tak kelihatan dari tempatmu berdiri waktu itu?’.

Ya’, jawabku.

Sambil mendesah, kau melanjutkan ‘Jalan itu sangat panjang. Ia tak bisa diukur dari usia yang kita punya. Bahkan, umur satu generasi belum bisa membuat perjalanan ke sana akan berakhir. Sekelilingnya dipenuhi onak duri, sesuatu yang tak sempat kau lihat sebelumnya. Kepayahan, peluh, air mata bahkan darah akan menjadi harga mati bagi yang melaluinya. Namun, kebahagiaan sejati ada di sana.

Apa yang harus aku lakukan jika aku tetap memilihnya?

Belajarlah bertahan. Dengarkan selalu suara nuranimu. Jangan menyerah. Sebab, perjuangan baru akan bernilai dengan tekad yang tak pernah padam.

---oOo---

‘Bukan POTENSI, namun PILIHAN yang membuat setiap orang berbeda’

*inspired from 'dia' yang besok akan MILAD. Saat semangat perlawananku kembali membara.

Labels:

Tuesday, March 27, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang cinta yang memilih*

Fragmen 9

Kegelapan dan persimpangan. 2 tikungan sejarah yang selalu menyesatkan banyak karakter manusia. Entah dengan suasana mencekam dan mistis yang diciptakannya, yang membuat kaki salah melangkah, ataukah kebimbangan dalam menentukan arah hidup yang menuntut keputusan cepat namun teliti dan benar. Dan jejak langkahku pun akhirnya membawaku bertemu dengannya. Persimpangan yang gelap. Sejenak, keraguan dan kepanikan mulai merasuki indera sadarku. Namun, kau muncul. Dengan putih cahaya yang menerangi sebuah jalan lurus, meskipun ujungnya tak terlihat dari tempatku berdiri.

Fragmen 10

Kegelapan itu tetap tak menyerah. Serentak, ribuan tangan hitam mengarah ke tubuhku. Masing-masing memegang sesuatu yang berbeda dalam genggamannya. Samar, kujumpai banyak bentuk dan jenis warna serta aroma yang memancar dari sana. Kembali, kepanikan menyergapku. Antara keinginan mengikuti, dan bertahan dalam ambang batas kesadaran yang hampir-hampir merubuhkan jasadku. Kau hanya tersenyum, mengulurkan tangan halusmu sambil mengangguk, mengajakku ikut melangkah dalam benderang cahaya putih yang menyelimutimu.

Fragmen 11

Beragam suara kasar memberenggut dalam kegelapan. Teriakan keras yang menguras energi sisa, membuatku limbung, dan akhirnya terjatuh. Kau tetap tersenyum. Namun ketegasan mulai terlukis di garis wajah dan bening matamu. Dengan ketenangan yang mengagumkan, kau menyeru ke arah kegelapan ‘biarkan ia memilih dengan hak kebebasannya. Bukankah ia lahir dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka?’. Keheningan menjelma.


Sisa tenaga yang tersisa kugunakan untuk merangkak. Perlahan, menyeret tubuhku ke arah jalanan yang masih berkilau dengan putih cahaya yang meneranginya. Senyummu tetap tak berubah. Perlahan, kau mendekatiku. Mengangkat, memapah dan memeluk tubuhku untuk kemudian mensejajarkan langkah kakiku dengan iramamu. Tak ada yang tersisa, selain ketenangan yang menyelimutiku. Damai.

--oOo--


Lalu, bagaimana mungkin kau memintaku mencintaimu secara sederhana, dengan perhatian dan kasih sayang agung yang telah kau ajarkan kepadaku?

*inspired from 'dia' yang 2 hari lagi akan MILAD. Cinta ini belum berubah :)


Labels:

Monday, March 26, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang sesuatu yang tercabik*

Fragmen 8


Resah. Perasaan itu masih saja setia mengikutiku. Tetap sama seperti yang dulu. Seperti saat kusaksikan ribuan TKI harus jadi kuli di negeri sendiri. Saat ratusan anak harus menderita lumpuh layu dan gizi buruk. Saat para ibu harus mengemis demi sebotol susu untuk buah hati dan sepiring nasi untuk keluarganya. Saat anak usia sekolah harus mengalahkan deru mesin kendaran di tiap perempatan lampu merah, menadahkan tangan untuk sekeping rupiah.

Sedih. Kosa kata inipun masih susah beranjak dari pikiranku. Tetap sama seperti yang dulu. Saat beragam bencana datang silih berganti. Saat nurani kemanusiaan bertekuk lutut di bawah tirani kekuasaan dan materi. Saat logika dan moralitas, digadaikan dalam lembaran kertas uang dan prestise semu atas nama status sosial. Saat inteletualitas dihargai dengan deretan huruf dan angka dalam lembaran ijazah dan transkrip nilai.

Geram.sikap hati yang juga masih menari di ruang jiwaku. Tetap sama seperti yang dulu. Saat nyawa manusia tak lebih dihargai dari bangkai busuk binatang liar. Saat ego lebih banyak berbicara dibanding kemurnian nurani. Saat alur anarkisme menjelma budaya di ketenangan pelosok negeri ini.

Maka satu-satunya pilihan rasional adalah dengan BERGERAK! Sebab, DIAM berarti MATI. Bukankah PERUBAHAN hanya bisa terwujud dengan BERGERAK?

Namun, ada yang makin menambah beban ini. Setelah keresahan, kesedihan, dan kegeraman. Ternyata ditambah lagi dengan kebingungan. Bagaimana tidak, kebanyakan kita malah memilih untuk saling menyalahkan. Di mana prinsip kerja sama yang diajarkan orang tua kita dahulu saat kita masih kanak? Ke mana daya juang yang ditanamkan pendahulu kita saat kita mempelajari sejarah mereka? Ke mana nalar berpikir kita disembunyikan, sementara beragam tingkat pendidikan telah kita enyam?

Kawan, sudah cukup banyak air mata ibu pertiwi ini terkuras. Jangan lagi ditambah dengan perpecahan di antara kita, anak-anaknya. Bukankah perbaikan lebih berharga dibanding saling tuding? Tidakkah solusi lebih bermakna dibanding saling curiga? Berdialog, tetulah lebih dewasa dibanding memendam buruk sangka yang akan berpotensi melahirkan fitnah?

Kawan, MERAH-PUTIH itu masih melambai, meski hanya setengah tiang. Ya…meski hanya setengah tiang. Yang dia butuh adalah angin sejuk perubahan untuk mengembalikan kemegahan kibarannya. Yang ia butuhkan adalah tarikan dan dorongan agar kembali ke puncak tiangnya, dan mengangkasa ke seantero dunia. Mengabarkan eksistensinya dengan kumandang ‘INDONESIA BELUM MENYERAH’

Ya, INDONESIA BELUM MENYERAH, selama masih ada pemuda yang resah, sedih, dan geram dengan semua sejarah yang telah diukirnya. Pemuda itu adalah aku, kamu, dia, kita, dan mereka!

*inspired from 'dia' yang 3 hari lagi akan MILAD. I LOVE U SO MUCH :)

ps: aku yakin, ibu pertiwi akan kembali tersenyum jika melihat kita semua bergandengan tangan :)

Labels:

Sunday, March 25, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang srikandi kampus merah



Fragmen 5

Tingkahnya santun. Sejuk dalam balutan jilbab putih lebar dan jaket hijau yang selalu menemani kesehariannya. Tas ransel selalu setia nangkring di pundaknya. Hampir tak pernah kudengar keluhan keluar dari mulutnya yang tak pernah absen dari tilawah harian. Yang ada hanya semangat. Ketajaman analisa dan kepedulian sosialnya, membuat sosoknya tak pernah lepas dari segudang aktivitas. Baris senyum tak pernah hilang dari lekukan bibirnya. Dan yang membuatnya paling unik, adalah ideology yang dipilihnya. Meskipun dia tahu, kelelahan yang akan dia tanggung. Keringat, air mata bahkan darah yang akan mengalir. Namun jawabannya sederhana saja, tiap kali orang-orang menanyakan tentang semua itu, “adakah perjuangan yang tidak menuntut pengorbanan?”

Fragmen 6

Dia tertawa. Selama ini hanya senyumnya saja yang selalu kulihat. Tapi pagi itu, dia benar-benar tertawa. Saat mengetahui bahwa ternyata hari-hari aksi yang kulalui dengan beberapa teman sering dimulai dengan nasi gosong, sepotong tempe dan air putih. “Gimana mau kuat bertahan” katanya. “Selain persiapan maknawiyah dan wacana, jangan pernah melupakan fisik”. Maka rutinitas hariannya bertambah lagi. Membawa makanan ke sekret tempat kami merancang beragam agenda perubahan. Bahkan, malam hari pun selalu ada tambahan supply tenaga. Secangkir kopi hangat dan snack ringan.

Fragmen 7

Jilbab putihnya penuh darah! Ya, beberapa batu nyasar ‘singgah’ di kepalanya yang tiap akhir malam tak pernah alfa sujud di hadapan Sang Kekasih. Masih kuingat tekadnya di akhir rapat, saat mendengar keraguan beberapa rekannya akan aksi yang telah dirancang jauh hari sebelumnya. “perjuangan hanya dilakoni oleh mereka yang memiliki mental pemberani, bukan pengecut. Takut mengambil resiko, lebih baik mati saja!” tegasnya. Dan dia konsisten dengan keyakinannya. Saat tubuhnya dipapah, dia berkata “ini baru sedikit dari beragam resiko perjuangan”. Bahkan di sela-sela darah yang mengalir turun ke wajahnya, lagi-lagi hanya senyum yang mengembang di bibirnya.


“HIDUP, MASIH MENYISAKAN ORANG-ORANG TEGAR DALAM DIRINYA”

Labels:

Tuesday, March 13, 2007

8 tahun 3 bulan [sebuah catatan perbaikan diri]

8 tahun 3 bulan…ya. Sekian lamanya putaran detik telah kulalui sejak terakhir kali kudengar suaranya. Suara yang selalu mengingatkanku akan ketegasan sebuah ideologi. Suara yang penuh dengan keyakinan akan makna perjuangan dan kemandirian. Yang tak mau menyerah pada keadaan, untuk suatu prinsip dan nilai hidup yang telah membentuk karakter jiwanya menjadi seseorang yang tegar.

8 tahun 3 bulan…ya. Sepanjang rentang waktu itu, tak lagi kulihat sosoknya melangkah dengan bantuan tongkat dan baju koko serta kopiah hitam yang jarang lepas dari kepalanya. Sosok yang panas dan hujan tak menyurutkan ayunan kakinya untuk bersegera ke masjid, berpacu dengan suara adzan yang keluar dari speaker tua menara masjid 150 meter dekat rumah.

8 tahun 3 bulan…ya. Selama itu tak kudapati lagi sorot tajam matanya, yang memancarkan kekhawatiran kala melihatku masih saja bergelung di tempat tidur sementara adzan subuh sudah mengalun. Tak kurasakan lagi sakitnya bilah bambu yang ‘mampir’ di kedua betisku saat dia mengetahui belum satupun ayat suci Al-Qur’an kulafadzkan tiap hari . Ataukah saat tak mendapati sosokku berada di barisan shalat berjamaah di masjid. Tak kudengar lagi nasehat tegas dari mulutnya, kala melihatku sedikit enggan membantu ibu ketika beliau meminta tolong.

Aku ingat. Aku ingat semua kemarahannya tiap kali mendapat laporan tentang kenakalanku., tentang kebiasaanku pulang larut ke rumah, atau tentang teman dan lingkungan pergaulanku.
Aku ingat. Malam ketika dia berbincang dengan ibu dan my old brother, dan berkata bahwa aku harus diapakan lagi agar pola sikapku bisa berubah. Bahkan dia hampir yakin, bahwa hanya di pesantren aku bisa menjadi lebih baik dan terarah. Namun mereka berdua meyakinkannya bahwa di manapun, setiap orang bisa berubah menjadi baik. Tidak mutlak harus di pesantren. Di perguruan tinggi negeri pun, ketika ada keinginan dan hidayah, setiap orang bisa menjadi lebih baik dari yang sekarang.

Aku ingat. Bahkan sangat ingat. Saat kemarahan puncaknya mencapai limit. Waktu itu pertama kalinya kutantang menatap matanya yang marah, dan membalas kata-kata nasehatnya dengan argumen dan logikaku. Dan kudapati bening air di sudut matanya. Dan aku juga ingat, saat dia meminta kepada my old brother untuk menjagaku jika waktunya kelak, aku berhasil diterima di perguruan tinggi dan sosokku jauh dari pengawasannya.

Ah…mengingatnya, selalu saja membuat mataku mengembun. Aku paham, semua kemarahan dan kekhawatirannya semata hanyalah tanda cinta kasihnya pada sosokku. Bukan kebencian seperti yang selama ini pernah kuambil sebagai sebuah kesimpulan. Karena satu nasehatnya yang sampai sekarang tak pernah hilang dari memoriku adalah saat ia mengatakan, ‘setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dan saya adalah pemimpin di rumah tangga ini. Saya tidak ingin masuk neraka karena gagal memimpin seorang anak yang sejatinya adalah amanah dari-Nya.’

Bapak…sungguh, kurindukan lagi sosok tegarmu. Kurindukan lagi nasehat-nasehat tegasmu. Kurindukan lagi tajam matamu tiap kali mendidikku. Bahkan sungguh, kurindukan lagi pukulan bambu di betisku, sama seperti dulu saat aku malas menunaikan shalat jamaah, utamanya subuh di masjid. Sungguh, kurindukan semua itu.

Maafkan anakmu, yang baru mengerti sedikit tentang makna cinta dan kasih sayang. Maafkan anakmu yang pernah berburuk sangka dengan semua tindakanmu. Maafkan anakmu yang belum juga sempurna mengabdi di jalan ideologi yang kau ajarkan. Maafkan anakmu yang terlambat mengetahui makna hidup yang kau ajarkan. Maafkan anakmu yang sangat minim baktinya pada keikhlasanmu…Maafkan.

Allah, ampunkan beliau. Sejahterakan dengan nikmat-Mu. Yang tak pernah pudar di telan masa. Lapangkan alam kuburnya. Terangilah dengan cahaya-Mu. Hindarkan dari fitnah kubur. Terimalah semua amal ibadahnya. Masukkanlah ke dalam syurga-Mu.
Berikan kesempatan lagi padaku, untuk mendatangi kuburannya. Duduk bersimpuh di depannya. Memohon maafnya. Kabulkan ya…Rabb.

ps :
- to teman-teman kampus : thanks untuk bimbingannya. Nilai yang kalian semua ajarkan telah mempengaruhi banyak untuk diriku yang sekarang. Semoga bernilai pahala di sisi-Nya
- to deen, mellow lagi yak? ^_^

Labels: